SUBJEK DAN OBJEK PENDIDIKAN

SUBJEK DAN OBJEK PENDIDIKAN

Nindi Aprilia Manoppo

Email : nindiapriliamanoppo@gmail.com

Abstrak

Objek pendidikan Islam termuat dalam al-Qur’an Surah At-Tahrim 6 dan surah asy-Syuaara 214 . Setidaknya ada tiga tingkatan prioritas objek pendidikan yaitu diri sendiri, keluarga dan kerabat. Sedangkan dalam Surat Lukman 12-19 terdapat tiga tingkat pendidikan yaitu pendidikan aqidah, pendidikan syari’ah, dan pendidikankarakter. Pendidikan aqidah meliputi dua hal: (1) larangan mensekutukanAllah. Lukman Hakim memprioritaskan pendidikan tauhid kepada anak-anak; (2) mempercayai hari akhir. Lukman Hakim mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mempercayai balasan atas perbuatan yang dilakukan di dunia.Pendidikan syariah meliputi dua hal, yaitu mendirikan sholat dan amar ma‘rūfnahy munkar. Pendidikan karakter meliputi perintah untuk bersyukur kepadaAllah atas semua karunia-Nya. Sedangkan penjelasan subjek pendidikan dalam islam yang diambil dari tafsir surah Ar-Rahman ayat 1-4, surah An-Nahl ayat 43-44, surah An-Najm ayat 5-6 dan surat Al-Kahfi ayat 66. Al-Qur’an memiliki banyak sekali kandungan konsep ilmu yang mana jika dikaji secara mendalam, maka kita akan bisa memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Terlihat betapa selektifnya islam dalam menentukan mana yang pantas dikatakan sebagai pendidik dan mana yang tidak. Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan. Pendidik memegang peranan penting dalam perkembangan suatu masyarakat. Oleh karenanya, jika ia dapat melaksanakan kewajibanya dalam mengajar, ikhlas dalam melaksanakan tugas, dan mengarahkan anak didiknya kepada pendidikan agama serta perilaku yang baik, maka ia akan mendapat keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat. Pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kata kunci : Tafsir Pendidikan Ayat Al-Qur’an, Subjek dan Objek Pendidikan, Nilai-Nilai Pendidikan Islam

Kata Kunci:  Objek dan Subjek Pendidikan

 I. Pengantar:

Proses pendidikan dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari peran pendidik dan peserta didik itu sendiri. Berhasil atau gagalnya pendidikan diantaranya ditentukan oleh kedua komponen tersebut. Mulai dari kemapanan ilmu pengetahuan pendidik, sampai kemampuan pendidik dalam menguasai objek pendidikan, berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik, motivasi belajar peserta didik, kepribadian anak didik dan tentu saja pengetahuan awal yang dikuasai oleh peserta didik. Agar hasil yang direncanakan tercapai semaksimal mungkin. Disinilah pentingnya pengetahuan tentang subjek dan objek pendidikan. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia di dalamnya menyimpan berbagai mutiara yang mahal harganya yang jika dianalisis secara mendalam sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Diantara mutiara tersebut adalah beberapa konsep pendidikan yang terkandung dalam Al-Quran, diantara konsep tersebut adalah konsep awal pendidikan, kewajiban belajar, tujuan pendidikan, objek dan subjek pendidikan. Keluasan Al-Qur’an dalam konsep pendidikan tersebut telah mendorong penulis untuk menggali beberapa nilai dari konsep tersebut, untuk itu dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan sedikit tentang konsep tersebut, yaitu yang berhubungan dengan subjek dan objek pendidikan dengan harapan dapat lebih memahami bagaimana subjek dan objek pendidikan menurut Al-Quran. C. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian subjek dan objek pendidikan? 2. Bagaimana penjelasan ayat Al-Qur’an mengenai subjek dan objek pendidikan islam? D. Tujuan Pembahasan 1. Untuk mengetahui bagaimana konsep subjek dan objek pendidikan. 2. Untuk mengetahui bagaimana tafsir ayat Al-Qur’an mengenai subjek dan objek pendidikan islam.

 II. Pembahasan:

Pengertian Subjek Pendidikan Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan. Subjek pendidikan yang dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua, guru-guru di institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat, sedangkan pendidikan pertama (tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama ini adalah rumah tangga (orang tua).Sebagai seorang muslim kita harus menyatakan bahwa pendidik pertama manusia adalah Allah dan yang kedua adalah Rasulullah. Kita dapat membedakan pendidik itu menjadi dua kategori yaitu: 1. Pendidik menurut kodrat, yaitu orang tua Orang tua sebagai pendidik menurut kodrat adalah pendidik pertama dan utama, karena secara kodrat anak manusia dilahirkan oleh orang tuanya (ibunya) dalam keadaan tidak berdayam hanya dengan pertolongan dan layanan orang tua (terutama ibu) bayi (anak manusia) itu dapat hidup dan berkembang semakin dewasa. Hubungan orang tua dengan anaknya dalam hubungan edukatif, mengandung dua unsur dasar, yaitu: a. Unsur kasih sayang pendidik terhadap anak. b. Unsur kesadaran dan tanggung jawab dari pendidik untuk menuntun perkembangan anak. 2. Pendidik menurut jabatan, yaitu guru. Guru adalah pendidik kedua setelah orang tua. Mereka tidak bisa disebut secara wajar dan alamiah menjadi pendidik, karena mereka mendapat tugas dari orang tua, sebagai pengganti orang tua. Mereka menjadi pendidik karena profesinya menjadi pendidik, guru di sekolah misalnya. Dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah pendidk profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formanl, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

7. 7 Guru berfungsi sebagai pendidik di samping sebagai pengajar. Guru membentuk sikap siswa, bahwa guru menjadi contoh atau teladan bagi siswa- siswanya. Hal itu tidak mungkin kalau guru hanya bertuigas mengajar saja.2 Adapun untuk syarat sebagai seorang pendidik adalah sebagai berikut : a. Syarat fisik Seorang pendidik harus berbadan sehat, tidak memiliki penyakit yang mungkin akan mengganggu pekerjaannya. Seperti penyakit menular. b. Syarat psikis Seorang pendidik harus sehat jiwanya (rohani)nya, tidak mengalami gangguan jiwa, stabil emosi, sabar, ramah , penyayang, berani atas kebenaran, mempunyai jiwa pengabdian, bertanggung jawab dan memiliki sifat-sifat positif yang lainnya. c. Syarat keagamaan Seorang pendidik harus seorang yang beragama dan mengamalkan agamanya. Disamping itu dia menjadi figur dalam segala aspek kepribadiannya. Sebagaimana firman Allah SWT, Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan [Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab] jika kamu tidak mengetahui. Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka [Yakni: perintah-perintah, larangan- larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran] dan supaya mereka memikirkan. (QS.An-Nahl : 43-44) d. Syarat teknis Seorang pendidik harus memiliki ijazah sebagai bukti kelayakan pendidik menjadi seorang guru. e. Syarat Pedagogis Seorang pendidik harus menguasai metode pengajaran, menguasai materi yang akan diajarkan, dan ilmu lain yang mendukung ilmu yang dia ajarkan. f. Syarat administrative 2 Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta : Rineka Cipta), 8.

8. 8 Syarat pendidik harus diangkat oleh pemerintah, yayasan atau lembaga lain yang berwenang mengangkat guru. Sehingga ia diberi tugas untuk mendidik dan mengajar. Dan dia benar-benar mengabdikan dirinya sepenuh hati dalam provesinya sebagai gurun. Semua ketentuan tentang pendidik di atas, itu hanya terbatas pada kriteria pendidik dalam dunia pendidikan, karena itu cakupannya lebih sempit dan terbatas. B. Pengertian Objek Pendidikan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang-orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”. Objek menurut bahasa yaitu orang yang menjadi pokok sasaran. Pendidikan adalah proses pencerdasan secara utuh dalam rangka mencapai kebahagian dunia dan akhirat atau keseimbangan materi dan religious spritual.3 Objek pendidikan adalah murid yang menerima dan menjalani proses pendidikan yang dilangsungkan oleh subjek pendidikan atau pun yang dialami langsung oleh objek melalui pengalaman sehari-hari dan relasi objek dengan subjek dan objek lain serta relasi dengan alam (lingkungan). Jadi objek pendidikan adalah orang yang mendapat pencerdasan secara utuh dalam rangka mencapai kebahagian dunia dan akhirat atau keseimbangan materi dan religious spritual. Dapat disimpulkan bahwa objek pendidikan adalah manusia dalam kaitannya dengan fenomena situasi pendidikan. Fenomena tersebut terdapat dimana-mana, didalam masyarakat, didalam keluarga dan disekolah.

 a.Ayat dan Terjemahan

Surah Ar-Rahman ayat 1-4

ٱلرَّحۡمَٰنُ ١  عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ٢  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ٣  عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ ٤

“(tuhan) yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. mengajarnya pandai berbicara.”

Surah Al-Baqarah : Ayat 31

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١

Artinya: Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Surah Al-Baqarah : Ayat 32

قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُٱلۡحَكِيمُ ٣٢

Artinya: Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35].”

Surah Al-Baqarah : Ayat 33

قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ ٣٣

Artinya: Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Surah Al-Baqarah : Ayat 34

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤

Artinya: Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah[36] kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Surah An-ANajm : Ayat 5-6

 عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ٥ ذُو مِرَّةٖ فَٱسۡتَوَىٰ ٦

Artinya: “Ia diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat, pemilik potensi yang sangat hebat, lalu dia tampil sempurna.”

b. Analisis Mufradat

 1. Q.S Ar- Rahman

(Tuhan) Yang Maha Pemurah , الرَّحْمَٰنُ

Yang telah mengajarkan al Quran.  عَلَّمَ الْقُرْآنَ

Dia menciptakan manusia خَلَقَ الْإِنسَانَ

Mengajarnya pandai berbicara.  عَلَّمَهُ الْبَيَان

2. Q.S Al- Baqarah 30-34

جَاعِلٌ   اِنِّيْ       لِلْمَلٰئِكَةِ  وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ

hendak menjadikan Aku kepada para malaikat Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman

اَتَجْعَلُ فِيْهَاقَالُوْآ    خَلِيْفَةًۗ فِى الْاَرْضِ

apakah Engkau hendak menjadikan mereka berkat kekhalifah di bumi

الدِّمَآءَۚ وَيَسْفِكُ فِيْهَا     مَنْ يُّفْسِدُ

darah   dan menumpahkan di sana orang yang merusak

وَنُقَدِّسُ لَكَۗ    بِحَمْدِكَ  نُسَبِّحُ    وَنَحْنُ

dan menyucikan nama-Mu memuji-Mu bertasbih  sedangkan kami

مَا لَا تَعْلَمُوْنَ      اَعْلَمُ     إِنِّيْٓ    قَالَ

apa yang tidak kamu ketahui  mengetahui  Sungguh, Aku Dia berfirman

الْاَسْمَآءَ   اٰدَمَ      وَعَلَّمَ

nama-nama (benda) kepada Adam dan Dia ajarkan

فَقَالَ     عَلَى الْمَلٰئِكَةِ      ثُمَّ عَرَضَهُمْ         كُلَّهَا

seraya berfirman kepada para malaikat kemudian Dia perlihatkan semuanya

صٰدِقِيْنَ  اِنْ كُنْتُمْ  بِاَسْمَآءِ هٰؤُلَآءِ       أَنْبِئُوْنِيْ

yang benar jika kamu nama-nama (benda) ini sebutkan kepada-Ku

فَسَجَدُوْا لِاٰدَمَ     لِلْمَلٰئِكَةِ اسْجُدُوْا  وَاِذْ قُلْنَا

maka mereka pun sujud

kepada Adam  kepada para malaikat, sujudlah kamu

dan (ingatlah) ketika Kami berfirman

وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ وَاسْتَكْبَرَۖ        اَبٰى       اِلَّآ إِبْلِيْسَۗ

dan ia termasuk golongan yang kafir  dan menyombongkan diri ia menolak kecuali Iblis

الْجَنَّةَ     وَزَوْجُكَ يٰٓاٰدَمُاسْكُنْاَنْتَ وَقُلْنَا

(di dalam) surge dan istrimu   wahai Adam, tinggallah engkau        

dan Kami berfirman

حَيْثُ شِئْتُمَاۖ    رَغَدًا     مِنْهَا     وَكُلَا

Sesukamu (dengan) nikmat yang ada di sana dan makanlah (berbagai makanan)

مِنَ الظّٰلِمِيْنَ       فَتَكُوْنَا   هٰذِهِ الشَّجَرَةَ      وَلَا تَقْرَبَا

termasuk orang-orang yang zalim nanti kamu pohon ini (tetapi) janganlah kamu dekati

3. Q.S An- Najm Ayat: 5-6

 mengajarkan kepadanya  ﻋَﻠَّﻪُ

 (Jibril) yang sangat ﻤَﺷَﺪِﻳﺪ

 Kuat اﻟﻘُﻮَﻰ

Mempunyai kekuatan ذُوﻣِﺮَّةٍۗ

Lalu dia cukup sempurna ﻓَﺴﺘَﻮَی

c. Asbab Nuzul

Ar-Rahman 1-4

Ayat ini diturunkan setelah terjadi pelecehan orang kafir setelah ada perintah untuk bersujud pada Arrahman yang terdapat dalam surah Al Furqon ayat 60:

Ayat ini merupakan bantahan bagi kaum kafir yang mengungkapkan mereka tidak mengenal seseorang yang bernama Rahman dari Yamamah. Maka ayat ini menegaskan bahwa Arrahman bukanlah dia tapi Allah yang maha Rahman (Yang Maha Penyayang) yang telah mengajarkan Al-Qur’an dan telah menciptakan manusia.

d. Hadits Terkait

عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا فَأَخْبَرْنَاهُ وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ. رواه البخارى

Artinya “Abu Sualiman Malik ibn al-Huwayris berkata: Kami, beberapa orang pemuda sebaya  datang kepada Nabi saw., lalu kami menginap bersama beliau selama 20 malam. Beliau menduga bahwa kami telah merindukan keluarga dan menanyakan apa yang kami tinggalkan pada keluarga. Lalu, kami memberitahukannya kepada Nabi. Beliau adalah seorang yang halus perasaannya dan penyayang lalu berkata: “Kembalilah kepada keluargamu! Ajarlah mereka, suruhlah mereka dan salatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya mengerjakan salat. Apabila waktu salat telah masuk, hendaklah salah seorang kamu mengumandangkan azan dan yang lebih senior hendaklah menjadi imam.” (HR. Bukhari)

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ. رواه الترمذى

Artinya ”Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih kecil, tidak memuliakan yang lebih besar, tidak menyuruh berbuat makruf, dan tidak mencegah perbuatan munkar.” (HR. Tirmidzi)

عَنْ اَبِي مُوسَى قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمْ اِذَا بَعَثَ اَحَدًا مِنْ اَصْحَابِهِ فِى بَعْضِ اَمْرِهِ قَالَ بَشِّرُ وَلاَ تُنَـفِّرُوا وَيَسِّرُواوَلاَ تُعَسِّرُوا رواه مسلم

Artinya : “Dari Abu Musa beliau berkata, “ Rasulullah SAW apabila mengutus salah satu orang sahabatnya untuk mengerjakan sebagian perintahnya selalu berpesan “ Sampaikan berita gembira oleh kalian dan janganlah kalian menimbulkan rasa antipati, berlaku mudahlah kalian dan janganlah kalian mempersulit.” (HR. Muslim)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسلم: إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعَثْنِيْ مُعْنِتاً وَلاَ مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِيْ مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا. رواه مسلم

Artinya : “Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda kepada ‘Aisyah: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.” (HR. Muslim)

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا. رواه البخارى

Artinya : ”Dari Ibnu Mas'ud, Nabi SAW. selalu menyelingi hari-hari belajar untuk kami untuk menghindari kebosanan kami.”

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْغَائِطَ فَلاَ يَسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ وَلاَ يَسْتَدْبِرْهَا وَلاَ يَسْتَطِبْ بِيَمِينِهِ وَكَانَ يَأْمُرُ بِثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ وَيَنْهَى عَنْ الرَّوْثِ وَالرِّمَّةِ رواه أبو داود

Artinya : “Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya saya menempati posisi orangtuamu. Aku akan mengajarmu. Apabila salah seorang kamu mau buang hajat, maka janganlah ia menghadap atau mebelakangi kiblat, janganlah ia beristinjak (membersihkan dubur sesudah buang air) dengan tangan kanan. Beliau menyuruh beristinjak (kalau tidak dengan air), dengan tiga batu dan melarang beristinjak dengan kotoran (najis) dan tulang.

عن أبى هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ رواه الترمذى

Artinya :“Abu Hurairah meriwayatkan  bahwa dia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah ! bahwa sesungguhnya dunia dan segala isinya terkutuk kecuali zikir kepada Allah dan apa yang terlibat dengannya, orang yang tahu (guru) atau orang yang belajar.”

e. Pendapat Ulama/ Ahli

Ahmad D. Marimba mengartikan pendidik sebagai orang yang memikul tanggung jawab untuk mendidik.

    Ahmad Tafsir menyatakan bahwa pendidik dalam Islam sama dengan teori di barat yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap peserta didik.

    Muri Yusuf, mengemukakan bahwa pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

f. Kandungan Makna

Pada surah ar-Rahman ayat 1-4 ditegaskan disini bahwa yang menjadi subjek pendidikan adalah seorang manusia yang merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna karena diberikan olehnya sesuatu yang tidak ia berikan kepada makhluk ciptaannya yang lain yakni akal yang mengangkat derajat manusia sehingga manusialah yang berhak menjadi subjek pendidikan baik bagi sesama ataupun bagi makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Surah Ar-rahman terdiri dari 78 ayat, surah ini termasuk ke dalam surah Madaniyah. Dinamankan Ar-Rahman yang berarti Yang Maha Pemurah berasal dari kata Ar-Rahman yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Ar-rahman merupakan satu dari sekian nama Allah SWT, sebagian besar dari surah ini menerangkan kepemurahan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tak terhingga baik di dunia maupun di akhirat kelak.4 Selain itu ayat ini juga menjelaskan tentang bagaimana Allah dalam sifatnya Yang Maha Kasih Sayang telah mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. untuk kemudian dijadikan landasan utama bagi kaum muslimin dalam mengarungi kehidupan di dunia. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Muwaththa : Aku telah meninggalkan 2 perkara untuk kalian, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yakni kitabullah (Al-Quran) dan sunnah Nabi-Nya. Dalam konteks ayat ini, kata Ar-rahman juga dapat ditambahkan bahwa kaum musyrikin Mekah tidak mengenal siapa Ar-Rahman sebagaimana pengakuan mereka yang direkam oleh Q.S Al-Furqan 25 :60. Dimulainya surah ini dengan kata tersebut bertujuan juga mengundang rasa ingin tahu mereka dengan harapan akan tergugah untuk mengakui nikmat – nikmat dan beriman kepada Nya.5 Kata ‘Al-lama atau mengajarkan memerlukan objek. Banyak ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud objek disini adalah Al-insan atau manusia. Malaikat jibril yang menerima wahyu dari Allah yang berupa Al-qur’an untuk disampaikan kepada nabi Muhammad Saw, disampaikan oleh beliau kepada nabi, malaikat jibril tidak akan mungkin mengajarkannya kepada nabi kalau sebelumnya tidak mendapat pengajaran kepada Allah.

(QS.An-Najm:5-6) Surah An-Najm termasuk kedalam surah Makiyah, jumlah ayatnya terdiri dari 62 ayat. Surah ini diturunkan sesudah surah Al-Ikhlas. Nama An-Najm yang berarti bintang, diambil dari perkataan An-Najm yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Menurut keterangan yang shahih, surah An-Najm ini surah yang pertama kali dikemukakan oleh Rosulullah saw.9 Pada surah An-Najm ini ditegaskanya klasifikasi seorang pendidik atau siapa saja yang berkompeten menjadi subjek pendidikan yakni seperti yang tersurah dalam ayat ini adalah seperti halnya seorang malaikat jibril yang mana beliau digambarkan sebagai berikut: 1) Sangat kuat, maksudnya memiliki fisik dan psikis yang matang dan mampu memecahkan masalah. 2) Mempunyai akal yang cerdas, yakni seorang pendidik haruslah memiliki akal yang mumpuni dalam bidangnya yakni berkompeten dalam mengajarkan apa yang diajarkannya sebagai seorang subyek pendidikan. 3) Menampakan dengan rupanya yang asli, yakni seorang subyek pendidikan hendaklah bersikap wajar yang tidak melebih-lebihkan segala sesuatu baik dari dirinya maupun apa yang dilakoninya dalam bidangnya. Sedangkan dalam tafsir Al-Qurtubi dijelaskan bahwa seluruh mufassir mengatakan القوى شديد adalah malaikat Jibril, kecuali Al-Hasan, ia menyatakan bahwa شديد القوى adalah Allah saw. Adapun kalimat ذومرة berarti memiliki kekuatan dan kecerdasan atau wawasan luas. Demikian pula yang dinyatakan oleh Ibnu Katsir. Dengan merujuk kepada pendapat jumhur mufassir, ayat ini berbicara tentang malaikat Jibril yang menjadi guru besar nabi Muhammad saw. terlepas dari perbedaan mengenai figur yang disebut pada ayat 5, seluruh mufassir sepakat bahwa figur yang dimaksud bersifat memiliki kekuatan dalam segala dimensinya serta kecerdasan khusus. Dengan demikian, makna pendidikan dalam ayat ini adalah bahwa seorang pendidik  merupakan sosok yang kuat, baik dari segi fisik, mental, ekonomi, maupun intelektual

 Q. S Al- Baqarah merupakan ayat yang berisi tentang dialog antar Allah dan malaikat. malaikat memberi tanggapan bahwa manusia itu hanya bisa menumpahkan darah (peperangan) antar sesama manusia dan dengan yang lainnya. mereka (malaikat) merasa bahwa mereka lah yang sepantasnya untuk Allah jadikan khalifah di bumi. lalu Allah ber-firman, "sesungguhnya Aku (Allah) itu lebih tahu dari apa yang kalian tidak ketahui."hal ini merupakan sebutan yg dikemukakan Allah. Di dalamnya terkandung keutamaan Nabi Adam atas malaikat berkat apa yg Allah khususkan pada Nabi Adam berupa ilmu tentang nama-nama atas segala sesuatu, dan para malaikat diperintahkan Allah untuk bersujud pada Nabi Adam.

Maha Suci Engkau maha tau dari apa yang tidak kami ketahui, selain dari apa yg engkau ajarkan pada kami. sesungguhnya kau....."dalam ayat ini menjelaskan bahwa ilmu yg kita miliki di bumi merupakan ilmu dari Allah. Yang mana Allah itu Maha Tahu segalanya. Nabi Adam memberitahu nama-nama benda yang ada di langit dan bumi kepada para Malaikat seperti yg Allah perintahkan. Lalu Allah berfirman bahwasannya apa yg ia beritahu itu merupakan sebagian kecil dari apa yg Allah ketahui.

g. Pesan- Pesan Pendidikan

"Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia."- Nelson Mandela

 "Kemajuan kita sebagai bangsa tidak bisa lebih cepat daripada kemajuan kita dalam pendidikan. Pikiran manusia adalah sumber daya fundamental kita." - John F. Kennedy

"Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bertahan." - Najwa Shihab

"Sistem pendidikan yang bijaksana setidaknya akan mengajarkan kita betapa sedikitnya yang belum diketahui oleh manusia, seberapa banyak yang masih harus ia pelajari." - Sir John Lubbock

III. Kesimpulan

Penelitian menunjukkan bahwa objek pendidikan Islam termuat dalam al- Qur’an Surah Ar- Rahman, surah Al-Baqarah, dan surah An- Najm . Setidaknya ada tiga tingkatan prioritas objek pendidikan yaitu diri sendiri, keluarga dan kerabat. Sedangkan dalam Surat Lukman 12-19 terdapat tiga tingkat pendidikan yaitu pendidikan aqidah, pendidikan syari’ah, dan pendidikankarakter. Pendidikan aqidah meliputi dua hal: (1) larangan mensekutukanAllah. Lukman Hakim memprioritaskan pendidikan tauhid kepada anak-anak; (2) mempercayai hari akhir. Lukman Hakim mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mempercayai balasan atas perbuatan yang dilakukan di dunia.Pendidikan syariah meliputi dua hal, yaitu mendirikan sholat dan amar ma‘rūfnahy munkar. Pendidikan karakter meliputi perintah untuk bersyukur kepadaAllah atas semua karunia-Nya. Subjek pendidikan dalam islam benar-benar diperhatikan keberadaannya. Terlihat betapa selektifnya islam dalam menentukan mana yang pantas dikatakan sebagai pendidik dan mana yang tidak. Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan. Kata “pendidik” itu meliputi semua orang yang memberi pendidikan, seperti guru, ustad, kyai, pengajar, dan orangtua. Seorang pendidik adalah teladan bagi generasi di zamannya. Ia memegang peranan penting dalam perkembangan suatu masyarakat. Oleh karenanya, jika ia dapat melaksanakan kewajibanya dalam mengajar, ikhlas dalam melaksanakan tugas, dan mengarahkan anak didiknya kepada pendidikan agama serta perilaku yang baik, maka ia akan mendapat keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat. Pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

 Daftar Pustaka

Abdullah bin Muhammad, 2008, Lubabut Tafsir min Ibni Katsiir, Terj. M. Abdul Ghofar dan Abu Ihsan Al-Atsari, Pustaka Imam Syafii, Jakarta. Ahmad Izzan, 2012, Tafsir Pendidikan Studi Ayat-Ayat Berdimensi Pendidikan, PAM Press, Banten. Al-Zuhaili, Wahbah,1991, Tafsir al-Munīr, Juz XXI, Beirut: Darul Fikri. Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta : Rineka Cipta Hamid Hakim, Abdul,1991, Bayān, Juz III, Jakarta: Sa’diyah Putra. Hamka, 1991, Tafsir al-Azhar, Juz XXI, Surabaya: Yayasan Latimojong. Langulung, Hasan, 1980, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: al-Ma’arif. M. Quraish Shihab, 2002, Tafsir Al-Mishbah, jilid 13, Lentera Hati, Jakarta. Mas’ud ,Abdurrahman dkk.2001, Paradigma Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar: Semarang. Mathba’ah Mushthafa Al-Baby Al-Halaby wa Auladuhu bi Mishra. Mushthafa Al-Maraghi,Ahmad, 1966, Tafsir Al-Maraghi Kairo: Syirkah Maktabah. Nurdin, Muslim dan Ishak Abdullah, 19931,Moral dan Kognisi Islam, Bandung: Alfabeta. Quraish Shihab, Muhammad, 2001, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, Semarang. Suryabrata, Sumadi,1995, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Press. Syafi’i Ma’arif, Ahmad,1991,Pendidikan Islam di Indonesia, Antara Cita dan Fakta, Yogyakarta: Tiara Wacana

32. 32 Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, 2000, Tafsir Al Qur’anul Majid An Nuur, Pustaka Rizki Putra, Semarang. Zakiah Darajat, 1970, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang


Komentar